BUDAYA JOGET (BARONGGENG) PEREMPUAN BERHIJAB KAJIAN KONTEMPORER PADA MASYARAKAT KELURAHAN KASTELA KECAMATAN PULAU TERNATE KOTA TERNATE 2026
Kata Kunci:
budaya joget (baronggeng), perempuan berhijab, budaya lokal, identitas sosial, performativitas gender, habitus, Kota Ternate.Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna budaya joget (baronggeng) bagi masyarakat Kelurahan Kastela, mengkaji konstruksi identitas perempuan berhijab yang berpartisipasi dalam praktik baronggeng, serta menjelaskan proses negosiasi antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya baronggeng tetap dimaknai sebagai identitas budaya lokal yang memperkuat solidaritas sosial dan menjadi media pewarisan nilai antargenerasi. Keterlibatan perempuan berhijab dalam praktik baronggeng mencerminkan proses negosiasi identitas antara budaya lokal dan identitas keagamaan, di mana hijab tidak dipahami sebagai penghalang terhadap partisipasi budaya, melainkan sebagai simbol religius yang hidup berdampingan dengan tradisi lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya joget (baronggeng) di Kelurahan Kastela mengalami transformasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Tradisi tersebut menjadi ruang dialog antara budaya lokal dan nilai-nilai Islam serta menghasilkan bentuk identitas sosial yang adaptif terhadap dinamika masyarakat kontemporer. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian antropologi budaya, sosiologi agama, dan studi gender, sekaligus menjadi masukan bagi upaya pelestarian budaya lokal yang inklusif dan berkelanjutan.
Unduhan
Referensi
Brown, R. (2020). The social identity approach: Appraising the Tajfellian legacy. British Journal of Social Psychology, 59(1), 5–25. https://doi.org/10.1111/bjso.12349
Butler, J. (1990). Gender trouble: Feminism and the subversion of identity. Routledge.
Butler, J. (1993). Bodies that matter: On the discursive limits of sex. Routledge.
Butler, J. (2004). Undoing gender. Routledge.
Dichman, A.-S. (2024). More-than-human gender performativity. Distinktion: Journal of Social Theory, 25(1), 71–87. https://doi.org/10.1080/1600910X.2023.2178476
Drury, J. (2026). The psychology of crowd behavior. Annual Review of Psychology, 77, 339–364. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-012125-121447
Dwifatma, A., & Betab, A. R. (2024). The “funny line veil” and the mediated political subjectivity of Muslim women in Indonesia. Asian Journal of Communication, 34(3), 284–297. https://doi.org/10.1080/01292986.2024.2320900
Fitri, S. A., & Nursyabani, S. A. L. (2024). Identitas sosial influencer berhijab di media sosial. Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam, 9(2), 223–240. https://doi.org/10.15575/tabligh.v9i2.42449
Hidayatullah, M. S., Sukmana, O., & Efendi, T. D. (2026). The crisis of religious identity among Indonesian Gen Z Muslims in the flow of global digital culture: A sociological analysis based on Tajfel and Turner's social identity theory. International Journal of Economics Management and Social Science, 9(2), 101–114.
Kakoliris, G. (2025). Judith Butler on gender performativity. Dia-noesis: A Journal of Philosophy. https://doi.org/10.12681/dia.41735
Koentjaraningrat. (2021). Pengantar ilmu antropologi (Edisi revisi). Rineka Cipta.
Ladyanna, S. (2024). Hijab in the public sphere of Muslim countries in Southeast Asia: Media, state rules, and society opinion. JPW (Jurnal Politik Walisongo), 6(1), 19–27. https://doi.org/10.21580/jpw.v6i1.20883
Merlins, R. R. (2024). The hijab transformed: A shifting social identity in Bauman's liquid modernity. Jurnal Sosiologi Reflektif, 19(1), 47–72. https://doi.org/10.14421/ckhdtn58
Nenohai, J. N. D. K., & Hakim, F. N. R. (2024). Hijab and the hegemony of piety: Politization of women's identity in Indonesia. JSW: Jurnal Sosiologi Walisongo, 8(2), 213–228. https://doi.org/10.21580/jsw.2024.8.2.20317
Pranoto, S., & Nugroho, A. (2026). The blooming flower under the Garuda bird: Articulation and agency in safeguarding intangible culture in Indonesia's new capital city. Social Sciences & Humanities Open, 13, 102314. https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2025.102314
Satia, S. (2024). Implementasi hukum Islam dalam tradisi pernikahan adat di Ternate. Al-Mizan: Jurnal Kajian Hukum dan Ekonomi. https://doi.org/10.59115/almizan.vi.224
Setiyani, W., Hidayati, N., Nurhairunnisa, & Ubaidillah, M. H. (2024). Beyond the veil: Deconstructing gender activism and Islamic identity in post-secular public spaces among Muslim women in Indonesia. Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam. https://doi.org/10.14421/ahwal.2024.17202
Shin, J., Lew, Y. K., & Seo, M. (2024). Constructing Muslim womanhood in Indonesia: Hijab and the governmentality of religious organizations. Asian Journal of Social Science, 52(3), 136–144. https://doi.org/10.1016/j.ajss.2024.07.001
Tajfel, H., & Turner, J. C. (2004). An integrative theory of intergroup conflict. In J. T. Jost & J. Sidanius (Eds.), The social psychology of intergroup relations (Original work published 1979). Brooks/Cole.
UNESCO. (2024). Indonesia–Intangible Cultural Heritage. https://ich.unesco.org/en/state/indonesia-ID
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Astriyani A. Papuangan, Suhardi Muhammad, Nurmi Budiman

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.




